Rabu, 22 April 2009

Close House System ( Sistim Kandang Tertutup )


Demi Keuntungan, Closed House Jadi Pilihan

Peningkatan kepadatan, efisiensi, kenyamanan dan kesehatan adalah sekian alasan dipilihnya closed house, karena ujungnya keuntungan

Penegasan peningkatan efisiensi dan produktivitas yang bisa diraih melalui penggunaan kandang tertutup –biasa dikenal dengan closed house— dibandingkan dengan kandang terbuka antara lain dikemukakan Stefan’s Julius, Divisi Poultry Equipment PT Charoen Pokphand Indonesia. Kepada TROBOS ia menyajikan fakta aplikasi kandang tertutup untuk breeder (ayam bibit) atau broiler, dengan luasan kandang yang sama bisa menampung ayam lebih banyak. “Populasi bisa ditingkatkan hingga 66 %,” sebut Stefan’s.
Ditemui terpisah, Deddy Kurnia, General Manager Gemilang Poultry lebih rigid menyebut angka kapasitas tampung dengan sistem tertutup memungkinkan ditingkatkan menjadi 10 ekor/ m2. Bahkan bisa 18 ekor/m2 apabila aplikasinya full automatic closed house. Sementara kapasitas tampung yang biasa diistilahkan sebagai density (kepadatan) ini, pada kandang terbuka menurut Deddy tak lebih dari 8 ekor/m2.
Angka lebih tinggi lagi berani disodorkan Jahja Tedjasukmana, Direktur Euriatec Indonesia. Dengan satuan kilogram, Jahja menampilkan data hasil pengamatan dari sebuah kandang tertutup (full closed house) di Semarang, Jawa Tengah. Dari kandang tersebut, broiler dengan berat rata-rata 1,6 kg bisa tertampung sebanyak 20 ekor/m2. Artinya tiap m2 kandang tertutup dapat menampung sekitar 32 kg bobot badan. Tidak cukup, Jahja pun membandingkan nilai capaian tersebut dengan hasil produksi kandang tertutup farm yang sudah bisa dinikmati peternak di Thailand. ”Di sana bisa sampai 40 kg/ m2. Kita masih ketinggalan,” kata Jahja menyayangkan.
Keuntungan yang sama akan dialami peternak layer dengan modernisasi kandangnya. Dengan menghitung bobot telur yang dihasilkan, Jahja memberikan angka peningkatan produksi dari konversi kandang terbuka ke kandang tertutup bisa mencapai 10 – 20 %. ( Source Trobos.com )